Tuesday, February 11, 2014

sudut hitam
aku masih tidak habis pikir dengan apa yang ku lakuan. aku terduduk di sebuah sudut meja bartender dengan tetap memakai jilbab ku. aku tidak minum dan tentu saja tidak mabuk. aku memesan cola atau soda tanpa alkohol. dengan bartender khusus di bagian stan tanpa hidangan beralkohol. aku bersyukur menemukan tempat ini. dulu setip kedatanganku, hampir semua pekerja bergeleng geleng dan memandangku sinis. merendahkan kudengan apa yang ku kenakan dan diamana aku berada. tapi kini mereka sudah biasa melihatku. dengan aku yang begitu ditempat yang seperti ini. hingar bingar yang memekakkan telinga. dengan masalah yang diluapkan dalam satu pusara lantai dansa. mengekspresikan diri dengan tingkah tak terkendali . mungkin disini tempatmu menjadi dirimu,atau bahkan mungkin bertopeng tebal untuk menemukan yang kau cari. kata mama, tempat ini hina. tempat ini bukan tempat yang disukai malaikat untuk memberi hidayah. tapi aku hanya seorang gadis yang sendirian. aku punya tuhan tapi tak cukup membuatku bisa mengerti keadilan. keadilan .

semakin malam semakin ramai saja tempat ini. semakin banyak tawa renyah yang riuh. entah itu benar dari hati atau bukan. banyak orang yang tak pernah mau mengerti tentang perasaan yang peka. oke . kata peka memang biasa ditujukan pada seorang pria yang tidak cukup mengerti perasaan wanitanya,tapi bukan berati wanita tidak melakukannya. bukan hanya hubungan antara sepasang kekasih yang berhak mencantumkan kata peka didalamnya. tapi dalam segala hal bisa. dan aku benci mengakuinya. aku hanya seorang yang butuh (baca: haus) akan rasa peka. yang selalu menganggap dunia ini begitu tidak adil dalam mencari kata adil. aku tau untuk menemukan kata adil kita harus menemukan kata tidak adil sebagai pembanding. tapi bukan itu yang ku maksud, aku tidak butu keadilan yang bisa dilihat dan dinilai setiap orang. aku ingin adil untuk diriku sendiri. untuk sebuah kebahagiaan dan kebebasan yang tidak ternilai harganya.

 ini sudah gelas ke delapanku . rasanya lambungku sudah penuh gas yang siap meledakkanku kapan saja. semuanya terasa hambar dimulutku. mungkin karna mood ku sedang buruk. buruk sekali. house music makin menggila seiring malam yang merayap menggapai matahari. asap asap rokok dan para gadis gadis makin brutal berdendang. uang pecahan puluhan ribu diselipkan di sela sela baju minim mereka oleh pria pria yang mencari kebahagiaan. mereka sudah bingung mau dikemanakan uang uang itu sepertinya. aku menikmati pemandangan itu seperti aku melihat suatu kebahagian yang tidak di inginkan. aku tidak mau merasakan hal itu. aku tidak ingin dipaksa bertahan dalam keadaan yang tidak ku inginkan. aku ungkin seperti orang yang tidak ingin berusaha atau bangkit dari hidup yang terputuk. tapi hidupku tidak seekstream itu. aku menjaani apa yang harusnya aku jalani. aku tetap bertahan dan tetap berusaha bangkit, tapi tidak segigih yang orang lain lakukan. ya, aku ya aku. jangan paksa aku dengan apa yang tidak aku mau. itu menyakitkan menyakitkanku.

No comments:

Post a Comment