Monday, February 2, 2015

Untittle



“bersikaplah dewasa!”                   
Teriakan itu menghentikanku berlari. Terengah engah dan berusaha mengisi rongga paru paruku dengan banyak oksigen agar proses glikolisis tetap berjalan untuk memenuhi energiku. Langkah itu semakin dekat menghampiriku. Menggenggam tangan kananku. Menariknya dan ..
“plakk!!”
Ia membelalakkan matanya. gadis itu menambah memar di pinggiran bibirku dengan kukunya. Anyir. Mungkin ini rasa darah,batinku. Ia meremas lenganku,dengan kasar ia ia membentur-benturkan dahi nya dan mulai menangis.
“ Bersikaplah dewasa. Bersikaplah seperti seorang pria. tenanglah.” Teriaknya lagi.
Tangan ini bergerak sendiri memeluk pinggang dan leher gadis itu. Semakin merekatkan pada tubuhku. Membagi kehangatan di tumpukan salju yang mulai menutupi sebagian tubuh kami. Berbagi oksigen dengan pernafasan sirkuler. Saling berkelit hingga terasa seperti tak ingin terpisahkan. Cairan saliva memisahkan kami. Aku memandangnya. Mata itu, berwarna abu-abu yang berkilauan. Hidungnya memerah karena semakin dingin. Dahinya menempel pada dahiku. aku masih menangis seperti anak kecil. Terisak isak seperti anak yang tersesat.
“kau mau aku bersikap dewasa?” tanyaku perlahan.

***
“apa benar benar pengakuan dosa ini dilakukan didepan api unggun dengan semua siswa yang masih berkumpul seperti ini?” tanyaKu ragu. Mataku berkeliling seperti mewaspadai sesuatu. Tidak, ia mencari seseorang.
“yoi,bro~ disini cukup ramai. Mereka tak akan memperhatikanmu.” Subaru merangkul pundakku untuk memeperkuat keyakinan ku sebagai sahabatnya.
“emm.. sou ka.” aku menunduk lagi.
“dosa apa itu? Apa kau pernah melakukan suatu hal yang mesum?hahahaha” tawa Subbaru meledak seketika.
“sayangnya itu benar.” Jawabku lirih. Kemudian ia melangkah menauhi Subaru dan semakin mendekati api unggun.
Aku mendekatkan ke api. Merasakan hangatnya. Bunkasai musim panas ini harus bisa membakar semua dosa dosaku. Dosanya malam itu bersama Nana. Nana. Pelacur yang membodohiku. Yang menjadikan aku jatuh cinta, dan menyampakkanku begitu saja. Pelacur yang tidak kan pernah membiarkan hidupku tenang. Bahkan tersenyumpun amat sulit. Yamamoto Nana. Ia selalu berkata mencintaiku tapi tak pernah berhenti untuk tidur dengan pria lain yang mentraktirnya makan. Ia selalu menghabiskan sisa hidupnya dengan babak belur. Dia sangat bodoh. Ia selalu memegang tanganku, menggenggamnya hangat lalu menarikku mengikuti permainannya. Mengatakan setiap malam bersamaku adalah malam yang indah,tapi tak pernah berhenti untuk tidak melayani pria lain selain aku. Ia selalu menangis padaku, meninggalkan jejak basah didadaku. Merembuat kusut bajuku karena ia memelukku, meremas bajuku dengan ledakan amarahnya. Yamamoto Nana, pelacur yang tak pernah sadar bahwa ada pria yang benar benar mencintainya seumur hidupnya.
“Haru…Haaaruu?’
“eh..”
“kau ,, kau berkeringat… kau terlalu dekat dengan api.”
 Tangan kecil itu menarikku mejauh dari api. Memberikanku kehangatan yang lain. Membuatku tak berdaya. Iya. Tak berdaya. Lututku melemah dan  tak sanggup berdiri lagi.
“Haru.. !” teriak Tachibana. Ia membawaku dalam pelukannya. Pelukan yang hangat di musim panas.
“jika ada yang menyakitimu,aku akan datang menyelamatkanmu. Seperti saat ini, saat kau jatuh. Aku akan bersamamu. Mendekapmu dan menuntunmu dengan caraku.”
“Tachibana.. selamatkan aku. Selamatkan aku.” Teriakku dalam pelukannya.


Semenjak malam itu, aku dan Tachibana resmi berpacaran. Kita selalu pulang sekolah bersama. Aku selalu mengantarnya hingga halte bus. Kadang kita mampir untuk membeli roti daging kukus, kroket, atau mampir kesalah satu restoran makanan  cepat saji. Setiap sabtu kita juga berkencan. Nonton film, ke planetarium, ke kebun binatan kecil (isinya bayi binatang saja),bahkan kita menghabiskan malam dengan bercerita masa kecil kita sambil berpelukan hingga pagi. Dia berbeda. Tidak pernah memperbolehkan aku menyentuhnya. Tak seperti Nana. Pelacur. Yang tidak sadar betapa aku mencintainya lebih dari Tachibana hingga saat ini.
Tepat di hari ‘satu tahun’ kebersamaan kami, aku ingin sekali mengajaknya ke pantai. Aku ingin memanjakannya. Membahagiakannya. Membalas budi atas semua cinta yang selama ini tulus dia berikan padaku. Aku akan menggendongnya disepanjang pinggiran pantai. Memeluknya saat ombak menghantam. Bahkan aku sangat bersedia tenggelam untuk menyelamatkannya dari segala bahaya yang ada. Aku telah menyiapkan minuman minuman buah segar dalam kotak pendingin kecil milik ibu yang ku pinjam. Aku membawa sun block agar dia tidak terbakar teriknya matahari. Aku seperti seorang ibu yang pertamakali membawa anaknya berlibur. Memalukan. Aku sangat berlebihan. Aku bahkan tidak bisa tidur semalam. Bahkan aku sempat panic baju apa yang pantas aku gunakan hari ini.
Aku berjalan sambil memikirkan apa yang akan dipakai Tachibana. Apa kah dia memakain waju yang senada denganku, apa dia akan memelukku saat kita bertemu. Atau dia hanya tersenyum simpul sambil memandangiku.
‘sebentar lagi sampai’ batinku. Aku bukan lagi berjalan. Tapi berlari. Berlari untuk segera menemui Tachibana.
“plak”
Aku membelalakkan mata melihat Tachibana memegang pipinya sambil terkejut memandangi seseorang yang sepertinya ku kenal.
“Nana!”
“Haru-kun… siapa gadis jalang yang sedang kau kencani ini. lihatlah.. apa bagusnya dia! Mukanya seperti bayi, dadanya rata. Bajunya tidak modis. Dan lihatlah..ayo lihatlah. Gadismu buruk sekali!” Nana menarik kalung Tachibana yang berliontin daun berwarna merah keemasan.
“apa maksudmu! Jangan ganggu dia!” teriakku.
“Haruu-kun, apa gadis ini tidak tahu siapa aku? Apa gadis ini tidak tahu siapa yang memelukmu setiap malam? Apa gadis ini tidak tahu siapa yang sangat kau cintai?” teriak Nana lagi didepan Tachibana.
“Haru-kun. . apa kau masih berhubungan dengannya?” tanya tachibana pilu.
“apa ini hadiah satu tahun kita bersama” tanya nya lagi.
“Haru.. apa kau mencintai gadis ini?” tachibana mendekat, menemas gulungan kemeja disikuku. Wajahnya mengerikan. Pucat. Penuh kegelisahan. Aku melihat Nana. Dia tersenyum. Tersenyum dengan lebarnya.
“aku berjanji tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun,Haru” suara Nana setahun yang lalu kembali menggema di otakku. Berputas putar menghasut alam bawah sadarku. Aku memang masih menghubungi Nana. Aku memang masih mencintainya. Tapi aku tidak tidur dengannya. Aku tidak mengkhianati Tachibana. Aku hanya tidak mengatakan yang sejujurnya.
“HARU..! JAWAB GADIS JALANG INI SIAPA AKU. JANGAN JADI SEORANG PENGECUT” Nana berteriak kencang hingga seluruh mata yang melintas tertarik melihat kami. Seperti itu gambaranku. Manusia memang tertarik akan masalah orang lain tanpa membantu menyelesaikannya.
“Ta..Tachibana-san..” sial. Aku kelu.
“aku..memang masih mencintai Nana, aku berhubungan dnegannya. Te..tet.. tapi aku tidak…”
“CUKUP! Aku pulang”
 Tachibana berjalan meninggalkanku dan Nana. Aku un tak bisa melakukan apapun. Mengejarnya hanya sia sia. Ia akan membenciku. Sangat membenciku. Nana memelukku. Mendekapku erat dan menyeretku mengikuti langkahnhya. Entah apa lagi yang akan dia lakukan dalam hidupku. Aku tetap mengikutinya.
Setelah kejadian itu, Tachibana mendiamkanku. Mencampakkanku. Bahkan ia enggan melihatku. Dia tidak pernah mau berurusan denganku lagi. Merasa bersalah padanya. Aku sangat mencintai Nana. Entah mengapa bodoh sekali aku saat ada Nana disampingku. Hari hari selanjutnya, Nana juga mulai meninggalkanku. Ia kembali bermain dengan banyak pria. Berdansa ditengah malam dan kembali saat matahari mulai muncul. Ia mulai berani mabuk. Pelacur. Bahkan aku menyalahkan diriku sendiri saat aku tahu Nana melakukan hal itu. Seperti semua ini salahku tidak bisa menemani Nana hingga ia harus ditemani pria lain untuk membahagiakannya.
“jika ada yang menyakitimu,aku akan datang menyelamatkanmu. Seperti saat ini, saat kau jatuh. Aku akan bersamamu. Mendekapmu dan menuntunmu dengan caraku.”
“Tachibana Mei, masihkah ada kesempatan kedua”

***

Gadis itu mengangguk lembut. Menatapku dengan begitu hangat.mata itu membuatku berjanji. Hanya dia yang begitu aku cintai selama ini. Bukan pelacur itu. Aku sadar aku hanya membutuhkan Nana untuk nafsuku. Nana yang mengajari aku menjadi lelaki brengsek. Tapi Tachibana merubahku menjadi seorang pria.Tachibana mei, seseorang yang datang padaku, membenarkan kembali jalanku. Mengembalikanku kearah yang benar. Menyanggaku setiap kali aku jatuh pada Nana. Membela harga diriku didepan Nana. Bahkan aku tau betapa bodohnya kenapa setahun saat aku berpacaran dengan Tachibana aku masih menghubungi Nana. Aku begitu bodoh dan mesum.
Tachibana begitu baik, memaafkanku setelah 3 minggu kita tak saling bicara. aku menembaknya lagi. Aku menginginkan dia kembali. Tapi Tachibana hanya berkata,’ jalani saja apapun yang bisa kita hadapi didepan. Jangan berjanji.’ Aku tau aku tak kan termaafkan. Dan saat aku benar benar baik dengan Tachibana. Nana kembali. Kali ini Tachibana yang membela ku. Ia membuatku menegaskan perasaanku. Menuntunku untuk memilih. Tapi bibir ini tidak berhenti meneriakkan nama Nana. Nana kembali tersenyum. Entah kenapa aku hanya bisa lari dan melarikan  diri seperti seorang pengecut. Tachibana mengejarku. Menarikku. Meneriakiku. Mencakarku. Menamparku berulang ulang.hingga aku sadar aku ada dalam peluknya. Hangat. Hingga aku lupa,ini bukan musim panas, ini bukan akhir bunkasai 2 tahun lalu. Dan ini bukan pertama kali aku merasakan wangi vanilla di bahunya.





“Tachibana mei, menikahlah dengan ku”



NB: gomen.. pake nama bermacam macam chara. Dan hampir menyerupai kebuntuanku. Ah sudahlah~ maafkan bila ini tidak bagus mengganggu atau semacamnya. Aku hanya buntu :” .kritik dan sarannya yah. Makasih makasihh /bow

No comments:

Post a Comment